Meningkatkan Ketahanan
Nasional Indonesia dalam Menghadapi Era Globalisasi
A.
KELEMAHAN DAN KEKUATAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI
Untuk
menghadapi globalisasi, kita harus tahu kekuatan dan kelemahan yang kita miliki
dalam segenap aspek kehidupan bangsa (astagatra) sebagai berikut.
1.
Geografi
Potensi wilayah darat, laut, udara
dan iklim tropis sebagai ruang hidup sangat baik dan strategis, namun di sisi
lain terdapat kelemahan dalam pendayagunaan wilayah darat, laut, dirgantara,
dan pengaturan tata ruangnya.
2.
Sumber Kekayaan Alam
Potensi sumber kekayaan alam (SKA) di daratan,
lautan, dan dirgantara, baik yang bersifat hayati maupun nonhayati, serta yang
dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui sangat besar. Hal ini
merupakan modal dan kekuatan dalam pembangunan. Namun, kelemahannya belum
sepenuhnya potensi sumber kekayaan alam tersebut dimanfaatkan secara optimal.
Kalaupun ada yang telah dimanfaatkan masih ada di antaranya dalam
pemanfaatannya kurang memperhatikan kelestarian dan distribusi hasilnya. Hal
ini tidak sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Di sisi lain juga sumber kekayaan alam yang ada
tidak seluruhnya dapat dijaga keamanannya dengan baik atau dengan kata lain
rawan pencurian.
3.
Demografi
Jumlah penduduk Indonesia termasuk nomor 4 di
dunia. Pertumbuhannya dapat ditekan akibat makin meningkatnya tingkat
pengetahuan masyarakat melalui program KB (Pertumbuhan 1,%). Begitu juga
tingkat kesehatan harapan hidup, dan kualitas fisik semakin meningkat.
Kelemahannya, sebagaian penduduk Indonesia antarwilayah atau daerah atau
antarpulau tidak proporsional, pertumbuhan belum mencapai zero growth dan
kualitas nonfisik yang masih rendah.
4.
Ideologi
Dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat kita berpegang pada ideologi Pancasila. Pancasila telah diterima
sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat. Pembudayaan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari (nilai
praktis) telah dan sedang digalakkan. Kelemahannya, pengamalan atau pembudayaan
Pancasila tersebut belum sepenuhnya terwujud. Ini adalah tantangan bagi seluruh
bangsa Indonesia dan jika ideologi Pancasila tersebut tidak dapat memberikan
harapan hidup lebih baik bukan tidak mungkin akan ditinggalkan oleh masyarakat.
5.
Politik
Dalam pelaksanaan politik sudah diciptakan
kerangka landasan sistem Politik Demokrasi Pancasila dan sudah bertata terutama
struktur politik dan mekanismenya. Kendatipun demikian, hal ini perlu dikaji
dan disempurnakan sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat demikian
juga pelaksanaannya terus memerlukan penyempurnaan sesuai dengan tuntutan
kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kelemahannya, budaya politik masih perlu
perbaikan dan peningkatan. Suprastruktur masih sangat dominan apabila
dibandingkan dengan infrastruktur dan substruktur. Begitu juga komunikasi
politik dan partisipasi politik perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki.
6.
Ekonomi
Kekuatan perekonomian Indonesia
terletak pada struktur perekonomian yang makin seimbang antara sektor industri
dan jasa. Pertumbuhan perekonomian cukup
tinggi (rata-rata ± 7%). Kelemahannya, perindustrian Indonesia belum begitu
kokoh karena masih tergantung pada impor bahan baku atau komponen. Impor bahan
baku atau komponen serta impor bahan-bahan lainnya sampai kepada barang
konsumsi membuat cadangan devisa yang semakin merosot. Belum lagi ditambah
utang luar negeri, untuk membiayai pembangunan, harus dicicil dengan devisa
yang kita miliki. Sementara itu, dalam proses pembangunan terjadi ekonomi biaya
tinggi (high cost economy) yang membuat enefisien biaya pembangunan.
Kesenjangan ekonomi juga cenderung semakin tinggi dapat memacu dan menicu
destabilisasi ekonomi dan politik yang berpengaruh terhadap kelangsungan
pembangunan tersebut. Perpajakan juga masih lemah dan perlu mendapat perhatian
dalam upaya meningkatkan biaya pembangunan yang sedang dijalankan saat ini.
7.
Sosial Budaya
Kekuatan bangsa Indonesia terletak pada
kebhinnekaannya, bagaikan kumpulan bunga berwarna-warni dalam sebuah taman.
Tetapi apabila kebhinnekaan atau kemajemukan tersebut tidak dapat dibina dengan baik bukan tidak mungkin
dapat menjadi bibit perpecahan. Dalam kegiatan belajar terdahulu kemajemukan
Indonesia disebut juga rawan perpecahan. Sementara sebagai hasil pembangunan
yang kita lakukan selama PJPT 1 di era orde baru ini dapat meningkatkan harkat
martabat dan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang tidak lepas dari akar
kebudayaannya. Namun demikian, masih banyak kelemahan yang perlu diperbaiki di
antaranya, berkembangnya primordialisme, kolusi, korupsi, dan nepotisme yang
membudaya dan disiplin nasional yang semakin merosot. Kehidupan masyarakat agak
cenderung ke arah individualistis dan materialistis dan makin berkurangnya
keteladanan para pemimpin.
8.
Pertahanan dan Keamanan
Dalam bidang pertahanan dan keamanan sudah
ditata sistem. Pertahanan dan keamanan rakyat semesta, doktrin Hankamrata serta
diundangkannya UU No. 20 Tahun 1982 tentang Pertahanan dan Keamanan Negara. Di
sisi lain bangsa Indonesia mewarisi tradisi sebagai bangsa pejuang yang merebut
kemerdekaan dari penjajah merupakan sumber kekuatan. Kelemahannya sishankamrata
tersebut belum sepenuhny terwujud. Kesadaran bela negara belum memasyarakat.
Sementara itu tingkat keamanan masyarakat masih terganggu dengan semakin
meningkatnya kriminalitas.
B.
TANNAS YANG DIHARAPKAN DI ERA GLOBALISASI
Penerapan pendekatan tannas dalam pembangunan
nasional sejalan dengan kelemahan dan kekuatan yang kita miliki seperti
diutarakan maka diperlukan pengaturan dalam segenap aspek kehidupan bangsa
(Astagrata).
Aspek
Trigatra Dalam pengaturan aspek Trigatra yang perlu mendapatkan perhatian
ialah: a. Pengaturan tata ruang wilayah nasional yang serasi antara kepentingan
kesejahteraan dan kepentingan keamanan. Keserasian ini sangat penting karena
kita tidak mau membayar risiko yang sangat besar apabila terjadi keadaan
darurat peranga atau bencana. Sumber-sumber perekonomian dan permukiman harus
dilindungi. Oleh karena itu, dalam perencanaan pembangunan harus
mempertimbangkan kepentingan keamanan tersebut dalam arti luas, selain mempertimbangkan
aspek kesejahteraan untuk masyarakat luas. b. Pengelolaan sumber kekayaan alam
dengan memperhatikan asa manfaat, daya saing dan lestari serta keadilan sosial
bagi seluruh rakyat. Asas manfaat berkaitan dengan upaya pengelolaan sumber
kekayaan alam itu, digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Mempunyai daya saing berkaitan dengan “mutu” yang tinggi standar sesuai dengan
kebutuhan pasar dan pelayanan yang menyenangkan. Tanpa mutu yang tinggi dan
pelayanan yang prima produk kita tidak bisa bersaing di pasar internasional di
era kesejagatan ini. Selain itu pengelolaan sumber kekayaan alam kita hendaknya
tidak melihat keuntungan semu jangka pendek, tetapi juga melihat keuntungan
jangka panjang dengan memperhatikan kelestarian dalam pengelolaannya. Begitu
pula hasil pembangunan hendaknya mencerminkan pemerataan (keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia).
C.
PEMBINAAN KEPENDUDUKAN
Penduduk
Indonesia dewasa ini termasuk 4 terbesar di dunia. Jumlah yang terus berkembang
ini karena pertumbuhan yang masih tinggi untuk itu perlu dikendalikan
pertumbuhannya melalui program KB (Keluarga Berencana). Program KB ini tidak
hanya ditujukan kepada pengendalian tersebut tetapi lebih luas dari itu, yaitu
peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan. Berbarengan dengan itu perlu
diupayakan peningkatan kualitasnya melalui program pendidikan dan keterampilan
dalam arti luas untuk memulihkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang
menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan dilandasi iman dan takwa. Di sisi
lain sebaran yang tidak proporsional di 17.508 buah pulau perlu diupayakan agar
menjadi sebaran yang proporsional, melalui program pengembangan atau
pembangunan wilayah luar Pulau Jawa. Pada tahap awal transmigrasi boleh jadi
menjadi alternatif, tetapi pada tahap berikutnya perlu dipikirkan relokasi
industri-industri di Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa serta pengembangan
potensi-potensi perekonomian di wilayah luar Pulau Jawa tersebut.
Aspek
Pancagatra 1. Pemahaman penghayatan dan pengamalan Pancasila (ideologi) 2.
Penghayatan budaya Pancasila 3. Mewujudkan perekonomian yang efisien,
pemerataan dan pertumbuhan yang tinggi 4. Memantapkan identitas nasional
Bhinneka Tunggal Ika 5. Memantapkan kesadaran bela negara
RANGKUMAN
Globalisasi
membawa angin perubahan terhadap kehidupan negara dan bangsa. Hubungan umat
manusia antarnegara sangat intens seakan-akan menggilas negara bangsa (nation
state) dan membangun citra global. Sebagao bangsa Indonesia, dengan berpijak
pada budaya Pancasila, kita harus siap menghadapi kekuatan global tersebut,
agar tetap eksis sebagai suatu bangsa dalam pergaulan dunia. Untuk itu, kita
mengetahui kekuatan dan kelemahan yang kita miliki dalam segenap aspek
kehidupan (Astagatra). Kekuatan yang kita miliki dalam Astagatra (geografi, sumber
kekayaan alam, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan
Hankam) hendaknya dapat dipertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, sedangkan
kelemahan-kelemahan yang ada hendaknya dapat diatasi dan diubah menjadi
kekuatan untuk meningkatkan tannas di dalam menghadapi era globalisasi. Kunci
dalam meningkatkan tannas Indonesia adalah peningkatan kualitas sumber daya
manusia Indonesia yang menuju kepenguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) yang dilandasi oleh iman dan takwa (imtaq). Hal ini sejalan dengan
hakikat pembangunan nasional, yaitu pembangunan manusia dari masyarakat
Indonesia seutuhnya. Dlama pembangunan nasional yang kita lakukan untuk
meningkatkan tannas dilandasi oleh Wasantara. Penerapan pendekatan tannas dalam
pembangunan nasional, berarti kita melihat kekuatan dan kelemahan bangsa
Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan (Astagatra) secara komprehensif
integral, membangun secara bersinergi aspek kehidupan bangsa tersebut.
Wasantara merupakan landasan atau kerangka dan visi yang mengikat bangsa
Indonesia dalam pembangunan nasional sehingga hasil pembangunan yang kita capai
atau tingkat tannas yang dihasilkan tetap dalam kerangka atau ikatan persatuan
dan kesatuan segenap aspek kehidupan bangsa Indonesia dan dapat memberikan jaminan
terhadap identitas dan integritas bangsa Indonesia dan negara kesatuan Republik
Indonesia serta tercapainya tujuan dan cita-cita nasional. Oleh karena itu,
dalam pembangunan nasional untuk mencapai tingkat tannas yang kita harapkan di
dalam mengarungi bahtera globalisasi ini diperlukan pengaturan dalam aspek
Trigatra dan pancagatra. Dalam aspek Trigatra diperlukan pengaturan ruang
wilayah nasional yang serasi antara kepentingan kesejahteraan dan kepentingan
keamanan, pembinaan kependudukan, pengelolaan sumber kekayaan alam dengan
memperhatikan asas manfaat, daya siang dan kelestarian. Dalam aspek pancagatra
diperlukan pemahaman penghayatan dan pengamalan Pancasila di dalam kehidupan
kita berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Penghayatan budaya politik
Pancasila, mewujudkan perekonomian yang efisien, pemerataan dan pertumbuhan
yang tinggi untuk mencapai kesejahteraan yang meningkat bagi seluruh rakyat,
memantapkan identitas nasional Bhinneka Tunggal Ika, dan memantapkan kesadaran
bela negara bagi seluruh rakyat Indonesia. Selanjutnya, di dalam gerak
pembangunan yang kita lakukan perlu diperhatikan keterpaduan yang sejalan
dengan konsepsi tannas, yaitu keterpaduan antara Pemerintahan dengan Daerah dan
keterpaduan antara sektor-sektor pembangunan dan di dalam sektor pembangunan.
Dengan konsep keterpaduan ini (pendekatan tannas) akan kita peroleh nilai
tambah yang tinggi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan keamanan rakyat
(tannas yang semakin meningkat) sehingga kita tetap bertahan hidup, betapa pun besarnya
badai kehidupan yang datang menghantam di era kesejagatan ini. Badai kehidupan tersebut
pasti dapat kita atasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar