SEJARAH
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
A.
Pengantar
Untuk memahami Pancasila secara
lengkap dan utuh terutama dalam kaitannya dengan jati diri bangsa Indonesia,
mutlak diperlukan pemahaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk membentuk
suatu negara yang berdasarkan suatu asas hidup bersama demi kesejahteraan hidup
bersama, yaitu negara yangberdasarkan Pancasila. Selain itu secara
epistemologis sekaligus sebagai pertanggung jawaban ilmiah, bahwa Pancasila
selain sebagai dasar negara Indonesia juga sebagai pandangan hidup bangsa, jiwa
dan kepribadian bangsa serta sebagai perjanjian luruh bangsa Indonesia pada
waktu mendirikan negara. Nilai-nilai essensial yang terkandung dalam Pancasila
yaitu : Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan serta Keadilan, dalam
kenyataannya secara objektif telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak zaman
dahulu kala sebelum mendirikan negara. Proses terbentuknya negara dan bangsa
Indonesia melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman
batu kemudian timbulnya kerajaan-kerajaan pada abad ke IV, ke V kemudian
dasar-dasar kebangsaaan Indonesia telah mulai nampak pada abad ke VII, yaitu
ketika timbulnya kerajaan Sriwijaya di bawah wangsa Syailendra di Palembang,
kemudian kerajaan Airlangga dan Majapahit di Jawa Timur serta kerajaan-kerajaan
lainnya. Dasar-dasar pembentukan nasionalisme modern dirintis oleh para pejuang
kemerdekaan bangsa, antara lain rintisan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang
kebangkitan nasional pada tahun 1908, kemudian dicetuskan pada sumpah pemua
pada tahun 1928. Akhirnya titik kulminasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia
dalam mendirikan negara tercapai dengan diproklamasikannya kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
B.
Zaman Kutai
Masyarakat Kutai yang membuka zaman sejarah
Indonesia pertama kalinya menampilkan nilai-nilai sosial politik, dan ketuhanan
dalam bentuk kerajaan, kenduru, serta sedekah kepada Brahmana. Bentuk kerajaan
dengan agama sebagai tali pengikat kewibawaan raja tampak dalam
kerajaan-kerajaan yang muncul kemudian di Jawa dan Sumatra. Dalam zaman kuno
(400-1500) terdapat dua kerajaan yang berhasil mencapai integrasi dengan
wilayah yang meliputi hampir separoh Indonesia dan seluruh wilayah Indonesia
sekarang yaitu kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Majapahit yang berpusat di
Jawa.
C.
Zaman Sriwijaya
Menurut Mr. M. Yamin bahwa
berdirinya negara kebangsaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan
kerajaan-kerajaan lama yang merupaka warisan nenek moyang bangsa Indonesia.
Negara kebangsaan Indonesia terbentuk melalui tiga tahap yaitu : pertama, zamana
Sriwijaya dibawah wangsa Syailendra (600-1400), yang bercirikan kedutaan.
kedua, negara kebangsaan zaman Majapahit (1293-1524) yang bercirikan keprabuan,
kedua tahap tersebut merupakan negara kebangsaan Indonesa lama. Kemudian
ketiga, negara kebangsaan modern yaitu negara Indonesia merdeka (sekarang
negara Proklamasi 17 Agustus 1945) (Kekretariat Negara RI 1995 : 11).
D.
Zaman Kerajaan-kerajaan Sebelum
Majapahit
Sebelum kerajaan Majapahit muncul
sebagai suatu kerajaan yang memancangkan nilai-nilai nasionalisme, telah muncul
kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur secara silih berganti, kerajaan
Kalingga pada abad ke VII, Sanjaya pada abad ke VIII yang ikut membantu
membangun candi Kalasan untuk Dewa Tara dan sebuah wihara untuk pendeta Buddha
didirikan di Jawa Tengah bersama dengan dinasti Syailendra (abad ke VII dan
IX). Refleksi punck budaya dari Jawa Tengah dalam periode-periode
kerajaan-kerajaan tersebut adalah dibangunnya candi Borobudur (candi agama
Buddha pada abad ke IX), dan candi Prambanan (candi agama Hindu pada abda ke X
).
E.
Kerajaan Majapahit
Pada tahun 1293 berdirilah
kerajaan Majapahit yang mencapai zaman keemasannya pada pemerintahan raja Hayam
Wuruk dengan Majapahit Gajah Mada yang dibantu oleh laksamana Nala dalam
memimpin armadanya untuk menguasai nusantara. Wilayah kekuasaan Majapahit
semasa jayanya itu membentang dari semenanjung melayu (Malaysia sekarang)
sampai Irian Barat melalui Kalimantan Utara. Sumpah Palapa yang diucapkan oleh
Mahapatih Gajah Mada dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri di paseban keprabuan
Majapahit pada tahun 1331, yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh
nusantara raya sebagai berikut: “Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa.
Jikalau seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan negara. Jikalau Gurun,
Seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tuma-sik telah
dikalahkan (Yamin, 1960 : 60).
F.
Zaman Penjajahan
Setelah Majapahit runtuh pada
permulaan abad XVI maka berkembanglah agama Islam dengan pesatnya di Indonesia.
Bersamaan dengan itu berkemban pulalah kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan
Demak, dan mulailah berdatangan orang-orang Eropa di nusantara. Mereka itu
antara lain Orang Portugis yang kemudian diikuti oleh orang-orang Sepanyol yang
ingin mencari pusat tanaman rempah-rempah. Bangsa asing yang masuk ke Indonesia
yang pada awalnya berdagang adalah orang-orang bangsa Portugis. Namun lama
kelamaan bangsa Portugis mulai menunjukkan peranannya dalam bidang perdagangan
yang meningkat menjadi praktek penjajahan misalnya Malaka sejak tahun 1511
dikuasai oleh Portugis. Pada akhir abad ke XVI bangsa Belanda datang pula ke
Indonesia dengan menempuh jaalan yang penuh kesulitas. Untuk menghindarkan
persaingan antara merek sendiri (Belanda), kemudian mereka mendirikan suatu perkumpulan
dagang yang bernama V.O.C (Verenigcle Oas Indische Compagnie), yang dikalangan
rakyat dikenal dengan istilah “Kompeni”. Praktek-praktek VOC mulai keliharan
dengna paksaan-paksaan sehingga rakyat mulai mengadakan perlawanan. Mataram di
bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1945) berupaya mengadakan perlawanan dan
menyerang ke Batavia pada tahun 1628 dan tahun 1929, walaupun tidak berhasil
meruntuhkan namun Gubenur Jendral J.P. Coen tewas dalam serangan Sultan Agung
yang kedua itu.
G.
Kebangkitan Nasional
Pada abad XX di panggung politik internasional
terjadilah pergolakan kebangkitan Dunia Timur dengan suatu kesadaran akan
kekuatannya sendiri. Republik Philipina (1898), yang di pelopori Joze Rizal,
kemenangan Jepang atau Rusia di Tsunia (1905), gerakan Sun Yat Sen dengan
republik Cinanya (1911). Partai Konggres di India dengan tokoh Tilak dan
Gandhi, adapun di Indonesia bergolaklah kebangkitan akan kesadaran berbangsa
yaitu kebangkitan nasional (1908) dipolopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo
dengan Budi Utomonya. Gerakan inilah yang merupakan awal gerakan nasional untuk
mewujudkan suatu bangsa yang memiliki kehormatan akan kemerdekaan dan
kekuatannya sendiri. Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 20 mei 1908 inilah
yang merupakan pelopor pergerakan nasional, sehingga segera setelah itu
muncullah organisasi-organisasi pergerakan lainnya. Organisasi-organisasi
pergerakan nasional itu antara lain : Sarekat Dagang Islam (SDI) (1909), yang
kemudian dengan cepat mengubah bentuknya menjadi gerakan politik dengan
mengganti namanya menjadi Sarekat Islam (SI) tahun (1911) di bawah H.O.S.
Cokroaminoto. Berikutnya munculah Indische Partij (1913), yang dipimpin oleh
tiga serangkai yaitu : Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo, Suwardi Suryaningrat
(yang kemudian dikenal dengan nama Ki’ Hajar Dewantara). Sejak semula partai
ini menunjukkan karadikalanya, sehingga tidak dapat berumur panjang karena
pemimpinnya dibuang ke luar negeri (1913).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar